20101231

BERMAIN PARIKAN

“Irung mimisan, tibo ning ratan
 Iki tulisan, soal saingan..”
(Hidung mimisan, jatuh di jalan. Ini, tulisan soal persaingan)
Yang saya tulis di atas adalah salah satu parikan yang saya buat. Belakangan ini saya sering bermain parikan bersama teman-teman saya. Dengan diiringi gitar dan alunan “la..lala..lalalala..”, membuat permainan parikan menjadi lebih seru.
Parikan, adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang dapat diartikan “pantun”. Bermain parikan sama halnya dengan permainan berbalas pantun. Dua belah kubu saling menyerang lewat parikan. Serangan yang dilancarkan dimaksudkan untuk memojokkan kubu lawan, membuat lawan tersudut. Biasanya, kubu yang diserang dan tersudut akan ditertawakan ramai. Pembagian kubu dalam parikan tidak akan ditentukan di awal permainan namun terbagi dengan sendirinya.
Dari Baliho ke Televisi
Beberapa bulan lalu salah seorang teman saya memperlihatkan sebuah foto (didapat lewat internet) yang dengan sangat jelas menggambarkan persaingan antar dua operator selular di mana salah satunya adalah XL. Foto itu menampilkan baliho iklan XL yang bersebelahan dengan baliho iklan operator lain. XL dengan baliho iklan yang isinya seperti kebanyakan baliho iklan lainnya dan baliho iklan pesaing tampil dengan gaya iklan yang sangat berbeda. Seperti “menantang”, baliho pesaing justru menuliskan “Tetangga sebelah ngomongnya paling murah ternyata tarifnya ribet benget jaringannya terbatas” dalam gambaran perkataan seseorang yang tengah menunjuk ke arah baliho XL.
 Menarik dilihat bahwa ternyata persaingan antar operator selurar begitu ketat hingga harus menunjukkan kepada publik secara gamblang mengenai bagaimana cara mereka bersaing. Bersaing melalui adu tarif ternyata belum dirasa cukup hingga harus melakukan persaingan “dalam ring tinju”. Bersaing face to face dengan operator lain yang dianggap pesaing.
Kini, persaingan XL dengan operator lain seperti dalam foto yang saya lihat beberapa bulan yang lalu itu semakin memanas. Tampil melalui media baru, televisi. XL dan sebuah operator selular lain bersaing melalui iklan komersil,  saling membuat iklan sindiran yang masing-masing ditujukan kepada lawan.
XL membuat iklan, maka beberapa waktu kemudian operator pesaing juga memunculkan iklan baru yang menurut saya menyindir iklan XL sebelumnya. Menyindir dalam hal ini saya artikan menjadikan seolah jelek. Menanggapi sindiran, kemudian XL membuat iklan  baru lagi, menyindir balik saingannya. Pesaingnya lalu membalas lagi, dengan konsep yang sama pula, iklan balasan,iklan sindiran. Begitu seterusnya.
 Saya tidak tahu kapan ini akan berhenti, tapi yang pasti, ketika saya menulis artikel ini, XL dan pesaingnya masih sibuk berbalas iklan. Mungkin saja saat saya selesai menulis artikel ini pun, tim kreatif masing-masing operator sedang memikiran konsep iklan balasan yang baru.
Apa yang dilakukan XL dengan salah satu pesaingnya itu sama seperti apa yang saya lakukan dengan teman-teman saya dalam permainan parikan. Bedanya, jika yang saya lakukan dalam parikan adalah berbalas pantun namun yang XL lakukan adalah berbalas iklan dengan pesaingnya.
Diabaikan
Bermain parikan ala XL dan pesaingnya akan terus berlanjut jika tidak ada pihak yang mengalah. Wajar memang, karena mungkin dalam persaingan seperti ini hal yang dipertaruhkan bukan hanya pelanggan namun juga gengsi perusahaan masing-masing. Sebuah pertaruhan yang sangat besar memang.
Lalu apa yang dirasakan oleh calon pelanggan/pelanggan saat melihat permainan parikan XL? Untuk menjawab pertanyaan itu,kemudian saya memposisikan diri saya sebagai seorang pelanggan salah satu operator. Ya, saya memang pelanggan XL.  Menilik dari sudut pandang saya pribadi melihat permainan parikan XL dan pesaingnya seolah membuat saya diabaikan oleh “pemain parikan”. Sebagai pelanggan tentunya, saya merasa diabaikan oleh XL. Mungkin apa yang saya rasakan juga dirasakan oleh pelanggan XL yang lain dan mungkin dirasakan oleh pelanggan pesaing XL pula. Merasa dianaktirikan, mungkin saja itu yang dirasakan oleh pelanggan/calon pelanggan kedua operator selular
Saling berbalas iklan seperti itu membuat tujuan dari pembuatan iklan sedikit berubah, atau setidaknya terpengaruh. Yang awalnya murni untuk memikat hati pelanggan/calon pelanggan namun kemudian teracuni oleh sebuah kata “gengsi”. Kedua kubu lebih memikirkan gengsi dan eksistensi perusahaan masing-masing. Ya, sekali lagi saya katakan kalau ini adalah pertaruhan besar.
Pelanggan/calon pelanggan harusnya lebih dipikat dengan berbagai layanan yang murah dan menguntungkan. Bukan dijadikan “penonton duel”.
Kubu Ketiga
Karena tidak semua orang pintar ber-parikan, biasanya akan muncul kubu ketiga. Kubu yang tertawa menikmati dua kubu lainnya saling menyerang. Kubu ketiga ini kalau saya perhatikan seolah mendapat manfaat dari persaingan dua kubu. Mereka bisa tertawa lepas tanpa harus memikirkan bagaimana melancarkan serangan (pantun) balasan dan tidak merasakan bagaimana rasanya tersudut oleh serangan lawan.
Kubu ketiga dalam parikan (yang sebenarnya) bisa saja muncul dalam permainan parikan XL. Kubu ketiga tertawa dengan tetap anteng berpromosi melalui iklan yang bagus.
Terlepas benar tidaknya analogi parikan saya, namun saat ini tampaknya telah hadir kubu ketiga di tengah parikan XL. Operator selular lain yang tidak ikut bermain parikan bisa saja menjadi kubu ketiga. Kan, operator selular di Indonesia ini bukan cuma XL dan pesaingnya itu.
Jika saja XL dan pesaingnya terus bersaing dalam parikan dan kubu ketiga tetap melakukan promosinya dengan baik atau mungkin lebih berkembang dan lebih memikat hati calon pelanggan, ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya bagi XL dan lawan parikan-nya. Yang paling bisa terjadi adalah calon pelanggan akan merasa jenuh jika terus “diajak” menyaksikan parikan XL. Kemudian, kehadiran kubu ketiga memberikan respon akan kejenuhan calon pelanggan dengan pengaruh iklan yang kuat. Dan akhirnya, calon pelanggan akan berlari ke kubu ketiga.
Persaingan antaroperator selular di Indonesia memang sangat ketat dan sengit saat ini. Namun para operator selular di negeri ini harusnya juga lebih mempertimbangkan dampak persaingan mereka terhadap masyarakat yang merupakan pelanggan mereka. Mereka harusnya lebih bijak dalam berpromosi. Promosi bukan hanya soal eksistensi dan gengsi. Dalam promosi harusnya lebih mementingkan informasi dan edukasi bagi masyarakat.
“Golek jangan, jangane kubis
 Nek saingan, masyarakat mbok tetep digubris..”
(Mencari sayur, sayurnya kol. Kalau bersaing, masyarakat harusnya tetap dipedulikan)


Tulisan di atas saya ikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis XL AWARD 2010
Dengan Tema Pilihan : Pengaruh perkembangan telekomunikasi seluler dan perkembangan industri kreatif di Indonesia:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar